Kamis, 12 Maret 2009

[TMC] Waspadai Perampokan di Dalam Taksi

JAKARTA - Bagi Anda yang gemar bepergian tanpa kendaraan pribadi, taksi mungkin salah satu pilihan utama.
Kenyamanan taksi dengan dinginnya AC dan keleluasaan menerima panggilan telepon menjadi beberapa alasannya. Taksi juga dapat ditemui dengan mudah sepanjang hari, baik siang ataupun malam.
Namun di balik kenyamanan tersebut, masyarakat yang hendak menggunakan jasa taksi akhir-akhir ini kembali dibuat resah. Meski tak dapat dikatakan marak, dua perampokan di dalam taksi selama dua hari berturut-turut dapat dijadikan contoh bahaya kejahatan yang dapat terjadi di dalam armada ini.
Peristiwa pertama terjadi Minggu (1/3) malam dengan korban Adriana (29) dan Ria (28). Ketika itu keduanya menaiki taksi di Jalan Casablanca. Di tengah perjalanan, pengemudi taksi mendadak menghentikan kendaraannya. Hanya berselang sesaat, dua pelaku lain yang sebelumnya telah menunggu langsung menerobos masuk ke dalam taksi dan mengancam kedua korban. Setelah menguras harta, para pelaku menurunkan korban di Jalan Gatot Subroto.
Sehari kemudian, perampokan dengan modus yang sama terjadi di Jalan KS Tubun, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Korban yang bernama Novita Maralona Pasaribu (27), warga Cipinang Asem RT 08/12, Jakarta Timur, dan seorang rekannya, Ester, akhirnya hanya pasrah ketika para pelaku menguras harta mereka.
Lilis, warga Semangka II, Jatipulo, Palmerah, Jakarta Barat, mengaku bahwa sebelumnya tidak merasa takut menumpang taksi saat pulang bekerja ataupun berkunjung dari rumah kerabat di malam hari. Namun, semenjak mengetahui adanya kasus perampokan terhadap penumpang taksi, tidak urung membuatnya lebih waspada. “Sempat deg-degan juga mendengarnya. Untung belum pernah mengalami. Sekarang saya jadi lebih hati-hati memilih taksi. Kalau memang terlalu malam, sebisa mungkin minta dijemput sama keluarga saja,” katanya.
Menanggapi kembali munculnya komplotan perampok taksi, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes M Iriawan mengatakan pihaknya masih mengejar para pelaku yang diduga berasal dari jaringan yang sama.
Dia berpesan agar masyarakat lebih berhati-hati saat menumpang taksi, khususnya terhadap para sopir tembak. ”Pastikan pengemudi adalah orang yang sama dengan yang tertera di ID yang tertempel. Naik taksi di tempat yang ramai dan jangan lupa melihat nomor pintu taksi yang dinaiki,” ujarnya.
Berdasarkan data di Polda Metro Jaya, selama 2008, terjadi 12 perampokan di dalam taksi, tujuh di antaranya berhasil terungkap. Sementara itu hingga awal Maret 2009, perampokan di dalam taksi telah terjadi tiga kali dan satu di antaranya berhasil diselesaikan.

Meniru
Kriminolog UI, Ronny Nitibaskara mengatakan, kasus perampokan penumpang taksi merupakan peniruan dari model kasus sebelumnya (imitation crime model). Dengan cara pengulangan ini, pelaku beranggapan dapat memperoleh keuntungan lebih besar dibandingkan risiko yang akan diterimanya. Selain itu, dipilihnya taksi sebagai media yang digunakan karena sasaran korban tergolong lebih mudah dan hampir dipastikan sebagian besar adalah orang berada.
Ronny menuturkan, maraknya kasus ini tak terlepas dari lemahnya pengawasan dari perusahaan taksi. ”Sopir taksi tembak harus dibatasi dengan sangsi tegas. Selain itu, polisi harus stand by 24 jam di setiap perempatan atau tempat strategis untuk mengantisipasi tindak kejahatan. Sebenarnya apa yang dilakukan polisi sekarang ini sudah baik, tetapi penjahat juga selalu mencari peluang,” ujarnya.
Mintarsih, pemilik Taksi Gamya, tidak menampik bahwa para pelaku bukanlah pengemudi yang sebenarnya. Mereka memanfaatkan taksi untuk melakukan kejahatan dengan cara menjadi sopir tembak.
Disinggung mengenai antisipasi yang dilakukan pihaknya agar armada yang dimiliki tak digunakan untuk melakukan kejahatan, Mintarsih mengaku menerapkan pola sistem tegas.
Selain menerapkan sistem tegas, perusahaan taksi tertentu bahkan menggunakan teknologi canggih untuk memantau keberadaan armadanya. Seperti yang dilakukan manajemen taksi Blue Bird. Humas Blue Bird, Teguh Wijayanto mengungkapkan, perusahaannya sejak beberapa tahun lalu telah menggunakan fasilitas Global Positioning System (GPS) untuk memantau taksi-taksi mereka serta alat yang berfungsi layaknya black box di pesawat yang dapat merekam kondisi percakapan di dalam taksi.


Link: http://www.lantas.metro.polri.go.id/news/index.php?id=2&nid=18444

Tidak ada komentar:

Posting Komentar